Tugas cerpen(Lailatul fitria XI4)

 Secangkir Kopi Susu


    Di sebuah desa kecil, malam itu cuaca terasa dingin. Terdengar gemercik rintik hujan, membawa aroma secangkir kopi susu yang melayang-layang dari dalam dapur. Di Salah satu rumah seorang gadis yang bernama maya, ia selalu duduk di teras belakang rumahnya setiap malam untuk sekadar melamun ataupun menatap langit yang gelap gulita. 


    Maya seorang anak bungsu dari tiga bersaudara. Memiliki keluarga harmonis penuh dengan kasih sayang dan berkecukupan. Kedua kakaknya sudah menikah dan ikut dengan suaminya. Orang tua maya memiliki usaha yang cukup besar. Mereka tidak ingin maya jauh darinya, sehingga sehabis lulus SMA maya diberi tugas untuk mengembangkan usahanya.

 

    Hari-hari berlalu bagaikan roller coaster. Maya mulai kesepian, teman- temannya telah pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikan ataupun bekerja. Setiap malam maya hanya melamun di teras belakang rumah dengan secangkir kopi susu yang setia menemaninya. Memandangi langit dengan suasana yang berubah-ubah setiap malamnya.


    Di suatu malam yang sunyi , seperti biasa maya menuju tempat ternyamannya untuk melamun, dengan hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi di temani secangkir kopi susu. Tiba-tiba suara langkah kaki membuyarkan lamunan, Seorang pemuda datang menghampiri maya, ia adalah bisma teman masa kecilnya. “Hai maya, gimana kabarnya?” maya tersenyum sambil berkata “ Alhamdulillah baik, ehh bisma kapan kamu pulang ke desa”. Mereka melanjutkan berbincang-bincang hingga malam ditemani dengan Secangkir kopi susu.


    Malam itu terasa sangat indah bagi maya. Kedatangan bisma membuat maya dapat bercerita banyak hal kepada bisma. Maya seorang anak bungsu yang jarang bercerita banyak bersama kakak-kakaknya maupun orang tuanya. Kehadiran bisma membuat hidup maya semakin berwarna yang sempat terasa monoton. Setiap ia berangkat menuju ruko untuk berjualan maya mulai merasa dunia disekitarnya mulai terasa tidak sepi. 


    Maya menjalani kehidupannya seperti biasanya, pagi hingga sore ia berjualan, di tengah-tengah kegiatan maya tidak lupa dengan secangkir kopi susunya. Hidup maya tanpa secangkir kopi susu terasa hampa, lemah, letih dan lesu. Hari demi hari maya lalui, hingga pada suatu hari saat maya sedang menjaga ruko ia kepikiran ingin sekali pergi ke kota. Maya menyayangi orang tuanya, tetapi hatinya ingin sekali bekerja ke kota, ia ingin melakukan sesuatu yang lebih daripada rutinitas di desa.


   Maya masih melakukan Aktivitas nya yang sama, ia terus kepikiran akan bekerja ke kota. Beberapa hari terakhir ia tak nafsu untuk makan. Hingga pada suatu pagi maya lupa untuk sarapan karena ia bangun kesiangan . Maya bergegas pergi ke ruko, sesampainya di ruko maya membuat kopi susu, beberapa jam kemudian maya merasakan perut yang amat begitu sakit, namun tidak dihiraukan dengan maya. Hari-hari maya terulang terus seperti biasanya.


    Pada jam makan malam, maya memberanikan diri untuk izin ke orang tuanya bekerja ke kota, “ayah, ibu maya mau minta izin untuk bekerja ke kota?” sang ibu langsung kaget, tidak pernah terpikir dalam benak ibu nya maya akan mengatakan begitu. “Lho, kenapa harus bekerja di kota, apa kamu tidak tidak senang jika kamu membantu ayah dan ibu, Apa kurang uang yang setiap bulan ibu kasih?” , bukannya mendapat izin, Maya justru mendapat omelan dari ibunya. Makan malam berlanjut dengan keheningan sampai selesai.


    Seperti biasanya aktivitas yang dilakukan maya setiap malamnya tidak berubah. Di saat ia melayang dengan segala lamunannya tiba-tiba handphone maya berbunyi, ia mendapat pesan dari bisma. 


Selamat malam, gimana kabarnya May?

       

Alhamdulillah baik Bis, cuman lagi pusing Sedikit.


Loh kenapa kok pusing? Sini cerita sama aku.


Aku tadi minta izin sama orang tuaku untuk bekerja ke kota, tetapi bukannya mendapat izin justru aku diomeli ibuku.


Maksud ibumu itu baik, ia tidak mau jauh dari kamu, sedangkan kamu sendiri anak bungsu, jika kamu pergi ke kota siapa yang akan menjaga dan merawat orang tuamu. 


Tapi kan aku juga mau merasakan hal baru, mendapat pengalaman yang baru.


Iya aku paham maksudmu, sudah jalani saja kesibukanmu sekarang. Kalau ada apa-apa cerita sama aku.

Mereka pun terus melanjutkan percakapan itu dengan bertelepon, mereka saling bercerita tentang kehidupannya. 


    Hari demi hari, mulai dari matahari terbit hingga terbenam. Maya terus merenungi kata- kata yang diberikan bisma. Bisma tidak hanya memberikan semangat dan harapan tetapi membuka mata dan hati maya bahwa sukses tidak harus bekerja ke kota melainkan dari manapun itu bisa sukses.


   Maya terus berpikir bagaimana ia mengembangkan usaha orang tuanya. Hal tersebut membuat kondisi kesehatan Maya terganggu. Maya mulai jarang makan tepat waktu, tetapi ia malah menambah porsi meminum kopinya. Meminum secangkir kopi susu merupakan pengalihan dari semua masalah yang Maya alami.


   Hingga suatu pagi, Maya belum keluar dari kamarnya. Akhirnya sang ibu pergi ke kamarnya. Tak sangka maya sedang terbaring lemas dan pucat di atas kasurnya. Maya akhirnya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kabar Maya sakit sudah sampai ke bisma. Bisma menghubungi Maya namun belum ada respon dari Maya. Membuat Bisma cemas dan memutuskan untuk pulang ke desa. Sesampainya di desa bisma langsung menjenguk Maya. 


   Kedatangan Bisma membuat Maya sedikit tenang. Bisma memberi semangat terus kepada Maya, “ Jangan dipikirin terus menerus. Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama aku. Jika butuh bantuan aku siap untuk membantu”.


    Seketika Maya terdiam membisu. Maya hanya bisa mengangguk. Sejak saat itu Ibu Maya mulai menyadari kedekatan antara Maya dengan Bisma. Hingga pada saat Bisma berpamitan pada ibunya. Ibu mengajak Bisma untuk berbicara di luar ruangan. 


 “Ibu percayakan Maya kepadamu. Semenjak lulus SMA sifat Maya sedikit berubah. Maya sempat minta izin untuk bekerja ke kota namun ibu melarang nya.” , ucap Ibu kepada bisma.

 “Baik Bu, akan ku usahakan apa yang Ibu amanahkan, Maya sendiri anaknya tidak banyak bercerita”. 


    Bisma tidak bisa lama-lama berada di desa, ia harus segera kembali ke kota untuk bekerja. Mulai dari maya masuk ke rumah sakit kedekatan mereka berdua semakin dekat dan intens. Bisma mulai menyemangati dan membantu Maya dari jauh untuk mengembangkan usaha orang tuanya. Bisma kerap memberikan jawaban saat Maya bertanya, menjelaskan apa yang tidak Maya mengerti. 


     Maya berangsur-angsur membaik, baik kondisi mental dan fisiknya. Usahanya semakin berkembang dan sukses, begitupun dengan Bisma yang sudah mencapai targetnya. Bisma memiliki niat baik untuk mengajak Maya ke jenjang yang serius. Tak disangka kedekatan Maya dengan bisma bermula dengan secangkir kopi susu yang tidak sengaja ia suguhkan ketika Bisma datang ke rumah Maya.



Semandiri apapun Kita, Kita pasti membutuhkan sosok pendengar. Baik itu ketika kita sedang berada di titik terendah ataupun titik teratas Kita. Dan pada cerita ini Maya bersyukur bertemu dengan Bisma, sosok yang menemaninya dari awal sampai akhir. Tanpa kenal lelah, Bisma selalu mendukungnya dan memberinya semangat untuk berjuang demi kehidupannya. 

Sekuat-kuatnya seorang anak perempuan dalam menyelesaikan masalahnya, ia akan tetap butuh tempat untuk sekadar bersandar dan tertidur. Ia juga butuh rumah untuk pulang, dan Ia juga ingin dirayakan.


SELESAI

Komentar

Posting Komentar